FRAKSI PilkadA INGINKAN PILKADA ACEH 2017 BERJALAN DENGAN BERSIH

Istimewa
Forum Aksi Bersih Pilkada Aceh (FRAKSI PilkadA) menyelenggarakan Diskusi Publik di 3 in 1 Coffee, Lampineung pada Sabtu 26 Maret 2016. Diskusi yang bertemakan “Upaya akademisi dalam mewujudkan Pilkada Aceh yang etis dan humanis.” ini dimulai pada pukul 16.50 WIB.

Konsep diskusi santai sambil ngopi ini dipanelkan oleh beberapa pemateri, di antaranya adalah Fuad Mardhatillah (Peneliti Senior Aceh Institute), dan Fajran Zain, Ph.D. (Dosen FISIP UIN Ar-Raniry), dan dipandu oleh Fakhrul Radhi (Pimpinan Redaksi klikkabar.com) selaku moderator.

Dalam materinya, Fuad Mardhatillah memaparkan bahwa pemasangan baliho, spanduk, dan alat kampanye lainnya adalah strategi pemenangan dengan konsep pembohongan publik, siapa yang lihai memainkan kebohongannya, maka dia yang akan memperoleh kemenangan. Serta membuat statement-statement sebagai pakta integritas oleh seorang kandidat atau calon.

Sebagai seorang yang kritis, kita haruslah menjadi seorang yang berani melapor terhadap tindakan-tindakan berdosa, salah satunya seperti perilaku money politic. Dewasa ini banyak pemimpin yang tidak sadar terhadap apa yang harus mereka lakukan ketika memasuki dunia politik, dan menelontorkan diri secara masif kepada masyarakat.

Kemudian pemaparan kedua dilanjutkan oleh Fajran Zain, ia menyatakan bahwa pemilu penting untuk dimonitor, karena monitor adalah alat penguat demokrasi. Sebuah pemilu yang dipantau secara profesional, kredibel, dan independen akan menghasilkan pemilu yang efektif dan tepat sasaran.

Banyak sekali kandidat yang salah dalam menyalahgunakan teknik kampanye. Salah satu contohnya adalah di mana alat transportasi umum seperti Trans Kutaraja sudah terdapat stempel atau poster yang terpampang foto kandidat Muzakkir Manaf.

Dahulu, tarik-menarik kepentingan antara Parnas dan Parlok sering terjadi, namun kini tarik-menarik itu terjadi antara Parlok. Banyak terjadi kejanggalan dan kecurangan di daerah-daerah dan sudah menjadi rahasia umum, namun banyak masyarakat takut untuk melaporkan karena adanya intimidasi dari beberapa oknum-oknum parlok.

“Saya sendiri jika ada masyarakat yang bertanya akan memilih siapa pada Pilkada nanti, saya tidak menyatakan memilih siapa, namun saya akan menjelaskan plus-minus dari masing-masing kandidat.” Tambahnya.

Beberapa aktivis yang berbekal pengalaman politik, banyak yang masuk dalam sistem beberapa partai nasional maupun lokal. Sayangnya banyak elit-elit politik dan elit-elit pendidik yang membodohi dan menggunakan mereka untuk kepentingan politik praktis.

Salah seorang audien, Ibu Ristika (Dosen FISIP UIN Ar-Raniry) ikut berbicara, bahwasanya ia sedang meneliti tentang money politic, ada fakta yang terbalik di sini. Partai Aceh selaku Parlok banyak menggunakan money politic, dan menggunakan modal sejarah sebagai pejuang pada saat masa DOM untuk menggelabui masyarakat.

“Fokus penelitian saya adalah, money politic menjadi faktor utama untuk memenangkan Pilkada.” Tambahnya.

Komisioner KIP, Roby Syahputra, yang turut hadir dalam diskusi ini ikut memberikan pendapat, ia menjelaskan bahwa beberapa waktu lalu teman-teman Fraksi PilkadA berkunjung kerumahnya membahas hal yang sama. Ia sangat mengapresiasi terbentuknya Fraksi PilkadA ini.

“Kasus-kasus di lapangan sedikit repot jika ditindak lanjuti tanpa pengawasan. Pelanggaran kode etik juga salah satu contoh yang harus ditindak lanjuti. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah Ketua KIP Aceh Timur melakukan pelanggaran kode etik dan langsung ditindak lanjuti dengan sanksi diberhentikan sebagai Ketua KIP.” Imbuhnya.

Ia juga menambahkan, hari ini memang KIP diberikan kewenangan beserta undang-undangnya untuk mengawasi Pilkada, namun itu sifatnya hanya sementara. Butuh semua elemen untuk bersama-sama mengawasi dan memantau Pilkada.

Sesi Diskusi:

Ridhwan: Kami yang disabilitas selalu mengalami diskriminasi, kami hanya selalu diberikan sosialisasi, namun tak benar-benar paham apa visi-misi dari para kandidat. Hampir semua TPS di Aceh tidak terakses untuk kami. Pemilu sering dilaksanakan di sekolah-sekolah dan sulit dijangkau. Kemudian ketika tiba di TPS bahkan sampai dengan saat mecoblos, harusnya pihak panitia menyediakan pendamping.

Juliani Jacob: Sudah menjadi mental kita bagaimana kita harus menerima apa yang diberikan orang-orang yang menginginkan sebuah jabatan. Bagaimana bisa terpilih pemimpin yang baik jika masyarakatnya saja bahkan pemimpinnya pun masih memiliki mental seperti itu. Kasus lain, ada pemimpin yang memang bagus mental dan karakternya, namun tim pemenangannya (timses) masih menggunakan cara yang salah dalam berkampanye.

Syarifah Rahmatillah: Kita harus mendukung akademisi untuk membuat gerakan atau forum yang lebih besar dalam mengawasi Pilkada. Kita kehilangan tokoh, nasehat, dan tempat berpijak dalam mengawal Pilkada yang bersih. Sampai saat ini masih sangat minim forum-forum yang mengadakan dan peduli terhadap pentingnya mengawasi dan mengontrol pemilu. Juga penting untuk ditingkatkannya perlindungan bagi saksi-saksi.

Sekretaris Jenderal Fraksi PilkadA, Mirza Fanzikri menyatakan diskusi ini kiranya menjadi langkah awal untuk memompa semangat masyarakat agar ikut terlibat dan mengambil pesan secara aktif dalam Pilkada Aceh 2107 mendatang. Kami berkeinginan memberikan edukasi politik bagi masyarakat Aceh sadar dan tergugah hatinya untuk bersatu mengawal Pilkada berjalan bersih, jujur, dan santun.

Diskusi berakhir pada pukul 18.30 WIB dan ditutup dengan penyerahan plakat kepada para pemateri oleh Koordinator Fraksi PilkadA, Zubaidah Azwan, SE., MM., sekaligus foto bersama.

Tentang Fraksi PilkadA:

Fraksi PilkadA merupakan forum inisiasi masyarakat sipil yang terdiri dari berbagai tokoh lintas OKP, ORMAS, kalangan profesional, dan aktivis sosial dengan tujuan mendorong terwujudnya Pilkada Aceh bersih, jujur, dan santun dengan semangat menjaga keutuhan NKRI dan perdamaian Aceh.

Dengan mengangkat tema “Menuju Pilkada 2017 Bersih, Jujur, dan Santun”, Fraksi PilkadA akan mengadakan diskusi publik secara rutin selama empat minggu berturut-turut dengan topik, tempat, dan narasumber yang berbeda-beda jelang Deklarasi Fraksi PilkadA. Diskusi yang dilaksanakan 26 Maret 2016 adalah diskusi perdana yang diselenggarakan.



sumber: klikkabar.com

0 Response to "FRAKSI PilkadA INGINKAN PILKADA ACEH 2017 BERJALAN DENGAN BERSIH"

Post a Comment