PARA LEADER GAM DAN EKS KOMBATAN HARUS LAKUKAN REKONSILIASI


Seorang Aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang Komitmen dengan perdamaian RI-GAM , Wareeh, yang saat ini bermukim di Aalborg, Denmark (Skandinavia) menyampaikan sikap kritis dan prihatinnya terhadap apa yang telah terjadi di kalangan sesama elit pemimpin GAM dan eks kombatan.

”Secara jelas saya sampaikan mewakili diri saya pribadi sebagai anak bangsa, bahwa faktor kesejahteraan rakyat Aceh tidak terlepas dari solidnya para leader GAM yang telah dua periode menjalankan pemerintahan Aceh. Tentu hal ini untuk meraih cita-cita agar rakyat Aceh lebih sejahtera hidupnya waktu esok dibandingkan hari ini. Masih banyak anak-anak dan perempuan korban konflik yang belum merasakan sejahtera secara ekonomi dalam hidupnya saat Aceh sudah damai. Ini menjadi tanggung jawab penuh gubernur/wakil gubernur, para pasangan bupati dan walikota serta anggota dewan dari partai lokal,” ujar Wareeh saat menghubungi redaksi Acehfokus.com dalam percakapan saluran internasional WhatsApp.

Ia mengingatkan pula, bahwa partai-partai lokal eksis di Aceh karena salah satu amanat MoU Helsinki.

Wareeh juga menyayangkan konflik kepentingan antara sesama elit GAM dan eks kombatan saat pilkada tahun 2012 silam serta menjelang pilkada 2017.

“Seharusnya elit-elit GAM yang sudah bermukim di Nanggroe jangan terpecah belah karena masalah kepentingan politik dan kekuasaan. Begitu juga elit-elit eks kombatan GAM. Seharusnya para leader ini tetap solid, atau mesti melakukan rekonsiliasi secara ke-Aceh-an. Bila para leader GAM saja tidak bersatu, bagaimana pula mencetak kader-kader pemimpin masa depan Aceh melalui partai – partai lokal bisa berjalan?”, GAM dan Eks Kombatan harus membimbing generasi muda; ujar Wareeh dengan nada prihatin.

Padahal, menurutnya, tantangan kehidupan bagi generasi muda Aceh sangatlah berat.

“Bila tidak dipersiapkan sejak sekarang dengan memberi peluang dan dukungan bagi anak-anak fakir miskin baik korban konflik atau korban bencana Tsunami untuk mengenyam pendidikan tinggi dan ditambah pengkaderan anak generasi bangsa untuk bisa berintegritas sebanyak mungkin dan dapat berpartisipasi dalam kancah demokrasi 5 tahun kedepan dengan menciptakan calon-calon kader eksekutif, legislatif dan yudikatif yang didalam jiwa dan pikiran mereka tertanam sikap dan rasa nasionalisme ke Aceh-an yang tidak diragukan. Kapan lagi kader-kader pemimpin Aceh dilatih kalau bukan dari hari ini ?” ucapnya secara rinci.

Tambahnya pula, jangan setiap mendekati tahun politik dan kegiatan pilkada atau pemilu legislatif, partai lokal baru lah sibuk cari kader.

Harapan Wareeh, GAM dan Eks kombatan GAM harus bisa menjadi Role Model di mata rakyat dan dunia.

Saat ini Syukri Ibrahim (Wareeh Al Asyi) tercatat sebagai penerima Suaka Politik dari UNHCR, dan bermukim di kota Aalborg, Denmark.





sumber: acehpeace.com

0 Response to "PARA LEADER GAM DAN EKS KOMBATAN HARUS LAKUKAN REKONSILIASI"

Post a Comment