Anyaman bambu karya Mujimin (Foto: HarianBernas.com/Arief Hidayat)
Selain memiliki destinasi wisata alam yang melimpah, wilayah perbukitan Menoreh, Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta juga menyimpan potensi hayati yang cukup tinggi. Salah satunya sebagai produsen bambu. Bambu selain berfungsi sebagai salah satu elemen bangunan, juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar aneka kerajinan.
Di satu desa saja, yaitu di Desa Sidomulyo Kecamatan Pengasih, hampir setiap kepala keluarga (KK) memiliki rumpun bambu di ladang atau halamannya. Dari 13 padukuhan di Desa Sidmulyo Pengasih yang dihuni sekitar 1500 KK, 70 % memiliki rumpun bambu. Jika dihitung, setiap rumpunnya terdiri dari 15 batang bambu. Maka setiap tahunnya akan ada 15.000 batang bambu layak olah. Umumnya rumpun bambu mampu menghasilkan 100-150 batang bambu/tahun usia tebang.
Sebagai pengrajin bambu, Mr. Gedek begitu julukan Mujimin, mengaku bahan baku bukan masalah pokok. Bagi Mujimin paling utama adalah kemampuan mengolah bambu menjadi karya yang menarik dan berkualitas.
Salah satu keunggulan dan keunikan produk anyaman bambu Mujimin adalah aneka motif yang dikembangkan. Dengan memiliki sekitar 140 motif, anyaman gedek bambu yang dihasilkan menjadi begitu indah seperti laiknya batik. Sehingga apabila dipasang sebagai eternit atau pelapis dinding rumah akan terasa unik, eksotik dan khas, sehingga membuat penghuni betah tinggal di dalamnya.
Kelebihan Mujimin lainnya yang membuat banyak orang tertarik, para pemesan dapat melihat langsung proses pembuatannya. Sehingga akan menimbulkan kepuasan tersendiri bagi customer atau pelanggan, daripada sekedar melihat hasil jadi di show room.
Mujimin juga terus mengembangkan sayapnya dengan menjadi bagian dari komunitas bambu dunia. Mengikuti beragam workshop tentang bambu untuk memperluas cakrawala berpikir dan jejaring bisnisnya. Selain itu juga sering menjadi narasumber beberapa seminar tentang bambu yang diadakan oleh kalangan akademisi.
Saat ini, selain melayani pesanan berupa anyaman gedek bambu dengan berbagai motif, juga sudah mulai merambah dunia konstruksi dan instalasi. Dengan segmentasi pasar yang makin spesifik tentu nilai sebatang bambu juga akan terus meningkat.
Seiring dengan peningkatan pesanan akan produksi anyaman gedek bambu, tentu kebutuhan bambu juga terus bertambah. Meskipun lingkungan telah memberikan bahan baku yang melimpah, namun kelestariannya juga harus dijaga. Sebagai pengusaha yang menyandarkan hidupnya dari bambu, Mujimin sangat sadar akan hal itu.
Reklamasi atau pembaruan rumpun bambu terus dilakukan, karena menanam bambu cukup mudah. Pembenihan bisa dengan mencabut bonggolnya atau pangkalnya lalu ditanam, atau cukup dengan carang bagian atasnya saja. Sebagai pelaku usaha, Mujimin telah menanam bambu sejak 4 tahun lalu dan setiap musim hujan selalu berusaha menancapkan benih di manapun. Termasuk di pinggir sungai yang sekaligus berfungsi menahan abrasi.
Mujimin adalah salah sosok inspiratif yang mampu membawa wawasan tentang cara membangun desa dari pinggiran. Kekayaan alam yang di padu dengan ide kreatif, keuletan, dan kemampuan mengeksplorasi potensi yang ada, akan menjadi jembatan menuju kesejahteraan.
sumber: harianbernas.com

0 Response to "SEBATANG BAMBU SEJUTA KARYA"
Post a Comment